Papandayan Buka, New Normal dan Mahal! Sebuah Cerita

papandayan buka

Coba deh tanya pendaki? Gunung apa yang paling mahal di Indonesia. Jawabannya pasti Gunung Papandayan. Taman wisata alam yang dikelola swasta ini menjadi salah satu gunung termahal di Indonesia. Meskipun mahal tiap akhir pekan atau musim libur tiba selalu di penuhi pendaki, terutama pendaki yang berasal dari Jabodetabek.

Semenjak berakhirnya PSBB dan masuk zona hijau, Gunung Papandayan menjadi Gunung pertama yang dibuka oleh pemerintah Kabupaten Garut. Kendati demikian, setiap pendaki wajib mengikuti protokol kesehatan yang sudah di tetapkan. Demi mencegah penyebaran virus corona yang sudah mendunia.

Kabar dibukanya pendakian Gunung Papandayan menjadi angin segar bagi siapa saja yang merindukan kegiatan alam. Perlu diketahui semenjak Covid 19 melanda, 3 bulan lebih lamanya menahan rindu bercengkarama dengan alam. Pemerintah melarang siapa pun dan membatasi setiap aktivitas dan pergerakan, termasuk melarang kegiatan pendakian.

Entah sampai kapan setiap pergerakan dihantui bahaya Covid 19, mau tidak mau sekarang hidup dimasa era New Normal atau hidup berdampingan dengan virus Covid 19.

Berikut sebuah cerita, melakukan pendakian Gunung termahal di Indonesia Papandayan di era new normal.

Bus Primajasa, mengantarkan sebelum menuju Gunung Papandayan buka dari arah Jakarta

papandayan_buka
Image Credit : Pribadi

Bus Primajasa rute Jakarta – Garut adalah transportasi utama sebelum menuju Gunung Papandayan dari arah Jakarta. Turun di terminal Guntur dan dilanjutkan menuju alun – alun Cisurupan. Pada perjalanku kemarin kapasitas bus yang biasa penuh sesak, kini berkurang hingga 50%. Semua PO Bus yang melayani rute AKDP maupun AKAP harus mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah.

Baca Juga : Leuwi Tonjong, Wisata Garut yang Lagi Hits

Dengan tarif 85 ribu per orang, perjalanku menuju kota Garut lebih terasa nyaman. Mahal! Iya….. karena ada kenaikan tarif 20% semenjak pandemi saat ini. Meskipun mahal, semua terbayar karena kenyamanan yang di dapatkan. Estimasi perjalanan Jakarta – Garut memakan waktu kurang lebih 5 jam dengan catatan kondisi Nagrek tidak macet. Dari terminal Guntur dilanjutkan menuju alun-alun Cisurupan. Sebuah Kecamatan sebelum menuju basecamp Gunung Papandayan.

Angkot Terminal Guntur – Cisurupan, 25 ribu per orang. Mahal…!!!

papandayan_buka
Image Credit : Pribadi

Sesampainya di terminal Guntur saat itu belum terlihat banyak pendaki, hanya aku saja. Disaat itu pula sambil menunggu partner trip yang akan menemani selama pendakian Gunung Papandayan nanti. Sekian waktu berselang, orang yang dinantikan datang lengkap dengan peralatan yang dia bawa. Rencananya kita akan 2 hari 2 malam, Camp David dan Pos Ghober Hoet.

Packing ulang dilanjutkan menuju Cisurupan. Perjalanan menggunakan angkot kecil jurusan Garut – Cisurupan dengan tarif 25 ribu per orang. Terdengar sangat mahal untuk angkot ukuran kecil seperti ini, namun tidak ada lagi jenis angkot yang bisa mengantarkan. 25 ribu per orang tidak sebanding dengan kenyamanan. Alternatifnya jika datang rombongan bisa carter angkot sampai pos pendakian Gunung Papandayan.

Baca Juga : Pendakian Gunung Andong dari Jakarta, Catatan Perjalanan

Drama…! Cisurupan – Pos masuk Gunung Papandayan, surat keterangan sehat

papandayan_buka
Image Credit : Pribadi

1 jam lebih estimasi perjalanan dari terminal Guntur ke Cisurupan. Perjalanan masih panjang, masih harus naik 1 lagi transportasi untuk sampai pos pintu masuk Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Ada 2 pilihan, naik ojek atau pick-up. Biar esensinya dapat, seru jika naik pick-up. Sayangnya waktu itu tidak ada pick-up yang stand by. Padahal biasanya banyak yang stand by yang biasa mengantarkan hingga sampai ke basecamp atau pintu masuk.

Terpaksa naik ojek tarifnya sekali antar 35 ribu. Drama pun dimulai….? Tukang ojek memberikan informasi jika saat ini (Pandemi Covid 19) Gunung Papandayan menerapkan peraturan ketat, salah satunya wajib membawa surat sehat. Aku pun mengabaikan informasi tersebut. Lalu…

Tetap dengan pendirian, jika pendaki yang berasal dari Jawa Barat tidak perlu membawa surat keterangan sehat. Sebelum berangkat sudah riset informasi melalui admin sosial media TWA Papandayan. Jawaban dari admin, hanya pengunjung dari luar Jawa Barat yang wajib membawa surat keterangan sehat. Ternyata…

Sampai di lokasi, tidak boleh masuk oleh petugas dengan alasan tidak menyertakan surat keterangan sehat. Kok begitu…..! Padahal admin sosialnya sendiri yang bilang hanya pengunjung luar Jawa Barat saja wajib membawa surat tersebut. Dengan perasaan kesal tak karuan, terpaksa kembali ke bawah untuk membuat surat keterangan sehat. Mau liburan kok gini banget dalam hati.

Baca Juga : Dibawah 1 Juta, Rekomendasi Tenda Camping Murah Berkualitas Kapasitas 2-4-6 orang

Mau tidak mau, ongkos ojek jadi double berlipat-lipat. Salahku sendiri yang mengabaikan informasi yang diberikan oleh tukang ojek itu. Seandainya saja percaya, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Anggap saja ini sebuah kejutan yang tidak diduga sebelumnya. Percaya, dalam setiap perjalanan pasti akan ada kejutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Mendaki Gunung Papandayan buka, seperti bisnis

papandayan_buka
Image Credit : IG @rumilagi

Di klinik yang biasa jadi rujukan pendaki untuk buat surat keterangan sehat, dikenakan biaya 25 ribu per orang. Terlihat murah….! Tapi bayangkan jika dalam 1 hari ada 50 sampai 100 orang, berapa keuntungan yang didapat. Petugas klinik sendiri mengatakan? semenjak Gunung Papandayan buka, dalam 1 hari bisa membuat sampai 300 surat.

300 x 25 ribu = 7.500.000
Wow……ini peraturan atau bisnis?

Lucunya lagi dalam pembuatan surat sehat, kita hanya ditanya nama, tempat tinggal, usia, berat badan, tinggi badan, tekanan darah dan no telp. Itu pun jawabannya nembak. Tidak ada pemeriksaan kesehatan real yang biasa dilakukan di Klinik atau rumah sakit pada umumnya. Tidak sampai 5 menit surat keterangan sehat pun jadi plus sudah ditanda tangani dan stempel klinik. Dalam hati, ooh….. seperti ini prosedurnya jika tidak membawa surat keterangan sehat dari rumah. Seperti Bisnis!!!!

Surat kesehatan bodong sudah ditangan, langsung kembali lagi menuju gerbang Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Sesampainya disana, memberikan surat kesehatan ke petugas. Petugas hanya melihatnya saja tanpa membukanya. Tak lama kemudian dipersilahkan masuk dan membayar tiket masuk.

Saat registrasi tiket masuk, ku lihat banyak pengunjung yang tidak diizinkan masuk karena tidak membawa surat sehat. Bahkan ku lihat ada beberapa rombongan keluarga yang bisa masuk tanpa surat sehat dengan jalur damai (nyogok). Aku juga mendengar, rombongan pendaki dari Jakarta yang tidak diizinkan masuk tanpa surat sehat, mereka menggelar tenda di dekat pintu masuk gerbang Taman Wisata Alam Gunung Papandayan.

Tips buat kamu yang ingin mendaki Gunung Papandayan buka di era New Normal. Sama seperti protokol kesehatan pendakian gunung pada umumnya, persiapkan surat keterangan kesehatan dari rumah. Bawa uang yang banyak jika kamu menggunakan kendaraan umum atau ala Backpacker. Tetap patuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Selamat berlibur!

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *