SOLO BACKPACKER KE GARUT TRIP SEJARAH DAN BUDAYA

Jika terbiasa blusukan ke hutan gunung dan pantai,pada liburan kali ini mencoba membuat sebuah perjalanan dengan tema Solo Backpacker Ke Garut Trip Sejarah dan Budaya. Semua berawal dari sebuah postingan salah satu member Backpacker Nusantara yang menceritakan tentang sebuah makam penyebar agama Islam yang berdampingan dengan sebuah candi Hindu dan merupakan satu-satunya candi yang berada di tanah sunda Garut.
Memulai perjalanan kali ini saya coba untuk Solo Backpacker ke Garut pergi sendiri menyusuri sebuah kota yang banyak orang menyebutnya sebagai Swiss Of Java Indonesia.  Sebuah kota yang sudah terkenal dengan icon gunung Papandayan dan dodol chocodot sebagai oleh-olehnya.

ITINERARY SOLO BACKPACKER KE GARUT

Day 1
  • Menikmati sore di Situ Bagendit
  • Mencicipi es Goyobod
  •  Menikmati malam di alun-alun Garut
  •  Bermalam di Wisma LEC
Day 2
  • Menuju Situ Cangkuang
  • Menyusuri desa adat Kampung Pulo
  • Ziarah ke makam Mbah Arief Muhammad (salah satu penyebar agama Islam)
  • Mengintip candi mungil candi Cangkuang
  • Belanja oleh-oleh khas Garut

START DARI BEKASI ! SOLO BACKPACKER KE GARUT DENGAN BUS PRIMAJASA

 

Pagi sekitaran jam 9 saya memulai ritual perjalanan sendiri kali ini,kenapa memilih sendiri ? Karena ingin menciptakan sesuatu pengalaman yang berbeda tentunya. Jika biasa ke Garut dengan trip rombongan,tapi kali ini fokus ingin sendiri. Menikmati langkah demi langkah dan detik demi detik menantikan kejutan apa yang akan di temui dalam perjalanan nanti.

Bus Primajasa adalah salah satu bus favorite bagi warga ibu kota yang ingin berpergian ke daerah tanah Pasundan Jawa Barat. (Purwakarta-Bandung-Garut-Tasikmalaya). Selain busnya yang 24 jam,tidak akan sulit untuk mencarinya. Ongkosnya juga relatif murah.
Dengan estimasi normal Bekasi-Garut selama 6 jam,berharap sampai tujuan jam 3 sore. Namun tanpa dugaan,jalur utama Ngarek Macet parah. Dengan begitu harus bersabar karena banyak waktu terbuang imbas dari macet tersebut. Akhirnya jam 6 Magrib baru tiba di terminal Guntur Garut.
Rencana tinggal rencana,itinerary yang sudah di buat untuk menikmati sore di Situ Bagendit sambil menikmati es Goyobod pun gagal. Ihklas kan saja lah masih ada hari esok untuk menikmati suasana Situ Cangkuang. Sedikit Informasi tentang Situ Bagendit. Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi Garut Jawa Barat. Situ Bagendit merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukt.
Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Situ Bagendit ini antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Para pengunjung juga dapat melakukan kegiatan rekreasi keluarga, menikmati pemandangan serta kegiatan bersepeda air.
Backpacker Ke Garut
Situ Bagendit Pict By @asligarut_
Menurut salah satu teman yang pernah kesini. Waktu terbaik ialah saat sore hari sambil menikmati penampakan sunset matahari terbenam dan di temani secangkir es Goyobod. Menurutnya ? banyak penjual es Goyobod yang menjual jajanannya di sekitaran Situ Bagendit.
Backpacker Ke Garut
Es Goyobod Pict By @umai_mi
Es goyobod adalah minuman dingin yang berbasis pada santan yang mirip dengan es campur. Minuman ini terbuat dari es serut, santan, gula cair, dan sari pati kacang hijau yang dibekukan yang dikenal sebagai hunkwe. Bahan lainnya termasuk alqukat dan kelapa yang diparut. Konon katanya es Goyobod merupakan minuman khas Garut tapi ada juga yang bilang kalau es Goyobod juga asli Bandung.

WISMA LEC ! REKOMENDASI PENGINAPAN MURAH UNTUK BACKPACKER KE GARUT

Gagal menikmati sore di Situ Bagendit,saya putuskan langsung mencari penginapan yang sudah di rencakan sebelumnya. Jika pada sebelumnya saya mencari penginapan murah ala kantong Backpacker di berbagai aplikasi perjalanan,tapi tidak ada satupun yang harganya cocok dengan kontong pribadi. Pada pencarian di Google,saya menemukan sebuah penginapan yang pas dengan kantong begitupun lokasinya yang hanya 100 meter dari terminal Guntur. Penginapan yang di maksud ialah Wisma LEC,kalau tidak salah penginapan  tersebut milik Pemda Garut.
Wisma LEC Garut adalah fasilitas penginapan bagi peserta yang sedang mengikuti kegiatan diklat yang dilaksanakan di LEC Garut, maupun tamu umum yang hendak menginap. Buka setiap hari, selama 24 jam. Tersedia aneka kamar dengan ragam fasilitas, seperti yang tertera dibawah ini:
Kamar VIP
Kapasitas : 4 orang
Fasilitas  : 2 Bed/Spring Bed Geser (atas & bawah), TV, Dispenser, Kipas Angin, Toilet (didalam kamar).
Harga : Rp. 150.000,-
Kamar Family
Kapasitas : 4 orang
Fasilitas : 4 Bed/Ranjang Geser (atas & bawah), Lemari, Kipas Angin, Toilet (didalam kamar).
Harga : Rp. 85.000,-
Kamar Standar
Kapasitas : 4 orang
Fasilitas : 4 Bed/Ranjang Geser (atas & bawah), Lemari, Kipas Angin, Toilet (diluar kamar).
Harga : Rp. 70.000,-
Harganya yang ramah,tempatnya juga rapih dan bersih. Pokoknya rekomend banget buat sobat yang ingin Backpacker ke Garut. Menurut penjaga wisma ? banyak pendaki dari berbagai daerah menjadikan tempat ini sebagai tempat istirahat. Coba bayangkan kan dalam 1 kamar terdapat 4 bed/kasur. Belum tentu bisa di temukan di penginapan lain dengan harga segitu.
Backpacker Ke Garut
Penampakan Dari Luar
Backpacker Ke Garut
Penampakan Dari Dalam
Backpacker Ke Garut
Penampakan Sisi Ruang Tengah

MENIKMATI MALAM DI ALUN-ALUN GARUT ALA BACKPACKER

Setelah tiba di penginapan untuk mengambil kunci kamar dan menaruh sebagian barang yang di bawa,itinerary selanjutnya ialah mencari makan malam. Saya memutuskan untuk mencari makan malam di sekitaran alun-alun Garut. Keluar dari penginapan menuju ke terminal Guntur dengan jalan kaki tepatnya,entah kenapa tiba-tiba rasa takut/khawatir itu muncul. Suasana sekitar terminal tampak sepi,padahal waktu itu masih menunjukan jam 19.30 malam. Terdengar suara gonggongan anjing dari kejauhan yang membuat suasana pikiran tidak karuan. Jadi teringat kalau dulu pernah membaca tulisan dari seorang blogger yang menceritakan dalam tulisannya pernah di perlakukan tidak enak oleh oknum preman/calo terminal Guntur. Disana juga tidak tampak satu pun pendaki yang tiba di terminal. Padahal jika akhir pekan tiba ? Terminal Guntur akan di penuhi rombongan pendaki yang akan mendaki berbagai gunung di Garut seperti Papandayan,Guntur dan Cikurai. Saya coba mencari informasi dan ternyata semua gunung di Garut tutup pendakian. Coba menenangkan pikiran,kalau kedatangan Solo Backpacker ke Garut untuk liburan,masa takut.

Backpacker Ke Garut
Alun-Alun Garut
Dalam perjalanan menuju alun-alun Garut,saya menyewa jasa ojek dengan tarif 10K. Tidak banyak yang dilakukan disini,hanya sebatas makan dan menikmati malam alun-alun Garut. Tampak disekitar muda mudi yang sedang beramadu kasih yang tentu saja bikin baper.
Dari pada iri liat kemesraan mereka,lebih baik cabut dan kembali ke penginapan. Perjalanan kembali ke penginapan,saya menaiki jasa ojek dengan tarif yang sama 10K. Sampai penginapan langsung mandi,tidur dan istirahat.
MENUJU SITU CANGKUANG ! ALTERNATIF PILIHAN UNTUK BACKPACKER KE GARUT
Pagi tiba dan alarm berbunyi,pertanda ini hari terakhir solo backpacker saya di Garut. Langsung berkemas dan bersiap-siap menuju agenda utama yaitu Situ Cangkuang.  Setelah semua siap ? langsung menuju receptionis untuk check-out dari kamar. Perjalanan menuju Situ Cangkuang,saya menaiki angkot menuju alun-alun kecamatan Leles. Sayangnya waktu tiba di alun-alun Leles,hujan turun dengan sangat derasnya. Mau tidak mau saya harus mencari sebuah warung untuk berteduh. Kebetulan perut belum sarapan pagi,sekalian saja moment ini di jadikan untuk mencari sarapan pagi sambil menunggu hujan reda.
BACKPACKER KE GARUT BIAR LENGKAP NAIK KENDARAAN KHAS GARUT YAITU DELDOM
Perut pun sudah terisi,sekarang waktunya menuju Situ Cangkuang. Biar lebih sedikit berbeda ? bukan naik angkot atau ojek,melaikan saya lebih memilih naik delman. Sebenarnya ingin menaiki deldom atau delman dengan hewan Domba sebagai tenaga penggeraknya. Namun menurut informasi yang di dapat dari masyarakat setempat. Deldom atau delman Domba tidak di gunakan lagi untuk transportasi,dan kini di ganti oleh Kuda sebagai tenaga penggeraknya.
Backpacker Ke Garut
Deldom (Delman Domba)
For Your Information : Deldom atau delman Domba adalah kendaraan tradisional khas Garut yang sekarang sering di jadikan sebagai kendaraan wisata.
Untuk menuju Situ Cangkuang dari alun-alun kecamatan Leles,terapat 2 pilihan transportasi. Bisa dengan ojek yang tarifnya lebih mahal ataupun naik delman yang tarifnya lebih murah namun menunggu hingga penuh terlebih dahulu,jika belum penuh delman tidak akan jalan. Demi wibawa,saya putuskan untuk mencarter delman seharga 35K. Maklum jika di Jakarta tidak pernah naik delman,jadi keliatan norak nya seperti apa.
Backpacker Ke Garut
Naik Delman Donk (Noraak)
Perjalanan kurang lebih 3 Km untuk menuju pintu masuk Situ Cangkuang. Sepanjang perjalanan di sungguhi eloknya pemandangan gunung Guntur dari kejauhan dan persawahan milik penduduk lokal yang mempermanis pemandangan. Tanpa terasa 20 menit perjalanan tiba juga si pintu masuk Situ Cangkuang.
For Your Information : Situ Cangkuang merupakan sebuah danau yang mengelilingi sebuah pulau kecil yang bernama pulau Cangkuang. Pulau tersebut merupakan sebuah situs cagar budaya karena memiliki sebuah perkampungan adat,sebuah candi dan sebuah makam. Untuk menuju pulau tersebut,pengunjung di wajibkan menaiki sebuah rakit tradisional untuk menyebrang menuju pulau Cangkuang.
Dengan membayar 10K,saya langsung mengeksplore dengan menaiki sebuah rakit yang sudah berjejer rapi menanti para pengunjung. Tidak ada biaya tambahan untuk menaiki rakit tersebut,semua sudah dalam 1 paket. Dalam 1 rakit bisa menampung kurang lebih sampai 20 orang. Kurang lebih hanya 15 menit menaiki rakit untuk menuju pulau Cangkuang. Sampai di dermaga pulau Cangkuang,saya langsung di sambut oleh warung-warung yang menjajakan aneka jajanan dan oleh-oleh.
Backpacker Ke Garut
Naik Rakit Menuju Pulau Cangkuang
Backpacker Ke Garut
Situ Cangkuang

Di dalam sebuah pulau,terdapat sebuah kampung tradisional yang kental akan nilai budaya warisan leluhur. Kampung tersebut bernama Kampung Pulo,ada yang unik dari kampung tersebut. Menurut cerita rakyat itu sendiri, masyarakat Kampung Pulo ini dulunya mayoritas memeluk agama Hindhu, kemudian Embah Dalem Muhammad singgah di daerah ini karena ia terpaksa mundur karena mengalami kegagalan dalam penyerangan terhadap Belanda.

Backpacker Ke Garut
Selamat Datang Di Cagar Budaya
Karena kegagalan ini, Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram karena malu dan takut pada Sultan Agung, beliau memilih untuk menetap di daerah Cangkuang yaitu di Kampung Pulo dan mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat kampung Pulo hingga beliau wafat dan dimakamkan di Kampung Pulo. Meski disebut kampung, warga Kampung Pulo hanya di isi 6 kepala keluarga (KK). Jumlah ini dibatasi, tidak boleh bertambah atau dikurangi. Demikian juga bangunan,hanya 6 bangunan dan 1 langgar di Kampung Pulo.
Backpacker Ke Garut
Plang Masuk Menuju Kampung Pulo

Konon, aturan itu merupakan simbol keluarga Eyang Dalem Arif Muhammad, pendiri Kampung Pulo. Prajurit Mataram ini mengasingkan diri setelah pasukannya tercerai-berai saat menyerang Batavia pada abad ke-17. Ia punya enam anak perempuan yang menempati enam rumah, dan seorang anak laki-laki yang disimbolkan sebagai langgar. Bangunan rumah berjajar membentuk huruf U, dengan langgar berdiri di ujung barat permukiman. Seluruhnya adalah bangunan panggung dengan bentuk atap “jolopong”.

Backpacker Ke Garut
Penampakan Rumah Tradisional Kampung Pulo
Demi menjaga jumlah keluarga dan bangunan, di Kampung Pulo berlaku sistem “neolocal residence”. 15 hari setelah menikah, pasangan pengantin harus meninggalkan Kampung Pulo untuk menetap di daerah lain. Mereka dapat menggantikan tinggal di rumah adat apabila orangtuanya meninggal. Hak waris rumah adat diberikan kepada anak perempuan tertua. Jika ia menolak, hak waris dapat diberikan kepada adik perempuannya. Selain itu masih ada peraturan wajib yang harus di patuhi salah satunya :
  • Tidak Boleh Berziarah Pada hari Rabu
  • Tidak boleh memukul atau menabuh gong besar dari perunggu
  • Tidak boleh membuat rumah beratap Jure/Prisma, selamanya harus memanjang.
  • Tidak boleh menambah dan mengurang bangunan poko juga kepala keluarga
  • Tidak boleh memelihara hewan ternak besar berkaki empat
BACKPACKER KE GARUT ! SEMPATKAN DIRI MENGINTIP CANDI CANGKUANG

Selain dasa adat Kampung Pulo yang unik,di Pulau Cangkuang juga terdapat sebuah Candi Hindu yang konon katanya merupakan satu-satunya candi Hindu di tanah Sunda. Yang menariknya ? Lokasi candiri berdiri tegak berdampingan dengan makam pendiri Kampung Pulo.

Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita berdasarkan laporan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893 mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam kuno di bukit Kampung Pulo, Leles. Makam dan arca Syiwa yang dimaksud memang diketemukan. Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi.

Backpacker Ke Garut
Penampakan Sebuah Candi Hindu Dan Makam Islam

Walaupun hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8M, satu zaman dengan candi-candi di Situs Batujaya dan Cibuaya, yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya.

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan bangunan candi dan di sampingnya terdapat sebuah makam kuno berikut sebuah arca Syiwa yang terletak di tengah reruntuhan bangunan. Dengan ditemukannya batu-batu andesit berbentuk balok, tim peneliti yang dipimpin Tjandrasamita merasa yakin bahwa di sekitar tempat tersebut semula terdapat sebuah candi. Penduduk setempat seringkali menggunakan balok-balok tersebut untuk batu nisan.

Berdasarkan keyakinan tersebut, peneliti melakukan penggalian di lokasi tersebut. Di dekat kuburan Arief Muhammad peneliti menemukan fondasi candi berkuran 4,5 x 4,5 meter dan batu-batu candi lainnya yang berserakan. Dengan penemuan tersebut Tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan segera melaksanakan penelitian didaerah tersebut. Hingga tahun 1968 penelitian masih terus berlangsung. Proses pemugaran Candi dimulai pada tahun 1974-1975 dan pelaksanaan rekonstruksi dilaksanakan pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap dan patung Syiwa serta dilengkapi dengan sebuah joglo museum dengan maksud untuk dipergunakan menyimpan dan menginventarisir benda-benda bersejarah bekas peninggalan kebudayaan dari seluruh Kabupaten Garut. Dalam pelaksanaan pemugaran pada tahun 1974 telah ditemukan kembali batu candi yang merupakan bagian-bagian dari kaki candi. Kendala utama rekonstruksi candi adalah batuan candi yang ditemukan hanya sekitar 40% dari aslinya, sehingga batu asli yang digunakan merekonstruksi bangunan candi tersebut hanya sekitar 40%. Selebihnya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi.

BACA JUGA : Liburan Ke Geopark Ciletuh Yang Menyedihkan

Candi Cangkuang merupakan candi pertama dipugar, dan juga untuk mengisi kekosongan sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran. Para ahli menduga bahwa Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8, didasarkan pada tingkat kelapukan batuannya, serta kesederhanaan bentuk (tidak adanya relief) sumber Wikipedia.

Meskipun candi ini mungil dan kecil,bahkan lebih kecil dari pada gapura pada umumnya. Walaupun begitu,candi ini tetap menarik karena punya nilai sejarah yang amat panjang. Ketika saya melihat candi tersebut bukan kecewa karena tidak seperti candi yang pernah saya liat dan megah. Justru saya di buat kagum,karena merupakan candi satu-satunya di tatar Sunda.

HARI TERAKHIR BACKPACKER KE GARUT DI TEMANI TOUR GUIDE CILIK

Tidak selamanya menjadi solo Backpacker itu kesepian karena tidak ada yang menemani. Buktinya pada waktu itu saya di temani seorang anak kecil berusia 5 tahun yang menemani mengelilingi pulau Cangkuang. Anak tersebut merupakan anak dari Bapak perahu rakit yang sebelumnya mengantarkan saya menyebrang ke Pulau Cangkuang.

Backpacker Ke Garut
Di Temani Tour Guide Cilik
Backpacker Ke Garut
Kayak Anak Dan Bapak
BACKPACKER KE GARUT TIDAK BISA LEPAS DARI CHOCODOT

Menjelang siang,saya putuskan meninggalkan Situ Cangkuang. Perjalanan kembali ke alun-alun Leles saya menaiki delman sama seperti ketika berangkat. Itinerary selanjutnya ialah berburu belanja oleh-oleh chocodot dan pulang kembali ke Jakarta. Sudah pada tahu kan chocodot itu apa ? Chocodot ialah cokelat yang di lapisi dodol. Makanan satu ini merupakan makan wajib di beli untuk oleh-oleh. Selain rasanya yang unik,bentuk dan tampilannya juga menarik.

Backpacker Ke Garut
Oleh-Oleh Khas
Backpacker Ke Garut
Tampilannya Bikin Menggoda

Oleh-oleh sudah di dapat,sekarang waktunya pulang kembali ke Jakarta mengingat besok harus sudah kembali bekerja. Dalam perjalanan pulang saya kembali menaiki bus Primajasa AC dengan tarif 45K

TIPS BACKPACKER KE GARUT

Jika berkunjung ke Garut,jangan lewatkan berkunjung ke salah satu situs cagar budaya Cangkuang. Tempat tersebut bisa di jadikan alternatif pilihan. Dan rekomendasi penginapan murah ala backpacker. Wisma Lec bisa di jadikan alternatif pilihan bersama keluarga, untuk informasi lengkapnya silahkan KLIK DISINI

Bagaimana ? apakah tertarik Backpacker ke Garut trip sejarah dan budaya.

49 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *