Solo Backpacker Ke Tasikmalaya Sunrise Gunung Galunggung

Menjadi seorang petualang itu banyak berbagai macam cara,salah satu-nya gaya ala Solo Backpacker. Kenapa memilih Tasikmalaya,karena kangen ransel,kangen mendaki tapi terbentur sama jam kerja dan sisa cuti. Mencari alternatif gunung yang bisa di daki tanpa perlu camping dan tidak memakan waktu lebih dari dua hari. Ialah Gunung Galunggung yang lokasi-nya tidak terlalu jauh dari ibu kota Jakarta. Perjalanan kali ini saya ingin sendiri dengan gaya Solo Backpacker Ke Tasikmalaya untuk berburu sunrise gunung Galunggung.

MENGAWALI PERJALANAN SALAH DALAM PENYUSUNAN ITINERARY

Sudah terbiasa bagi saya melakukan perjalanan dengan bus umum,memulai start dari terminal Bekasi dengan menaiki bus Primajasa jurusan Bekasi-Tasikmalaya. Tepat jam 10 malam saya sudah menaiki bus dan berharap akan sampai di sana pagi hari dengan estimasi perjalanan kurang lebih 6 jam. Alasan berangkat malam hari ialah karena ingin mengejar sunrise Gunung Galunggung.

Sepanjang perjalanan situasi saat itu bener-bener kondisi jalan lancar tanpa hambatan. Bus pun melaju dengan sangat kencang. Harap-harap cemas apa yang di takutkan terjadi jikalau nanti sampai sana di atas jam tiga pagi. Dan bener saja mungkin karena ini bus malam yang saya naiki perjalan terasa cepat tanpa terasa jam setegah dua pagi sudah tiba di terminal Indhiang Tasikmalaya. Di luar target dan ini bener-bener kesalahan dalam penyusunan itinerary. Padahal dalam itinenary yang telah di buat. Saya menargetkan sampai sana jam lima pagi biar langsung menuju pintu masuk Galunggung.

Baca Juga : Solo Backpacker Ke Purwakarta

Namun pada kenyataan-nya tiba lebih awal dan mau tidak mau harus menunggu tiga jam-an lagi sebelum mengejar sunrise. Yang ada di pikiran saat itu ? sampai sana langsung mencari warung kopi sekedar untuk istirahat dan membuang waktu.

HARUS BERBOHONG DAN DI PERALUKAN TIDAK ENAK

Baru juga turun dari bus,langsung di serbu oleh gerombolan ojek yang menawarkan jasanya. “Mau kemana A,Sendirian aja A” ucap mereka. Saya pun mengabaikan mereka,berusaha menjauh tapi tetap saja di buntuti dari belakang. Melihat hape saat itu masih jam setengah dua dini hari,jujur perasaan saat itu bener-bener takut. Takut di culik,di colek di perkosa atau apalah,dalam hati terus berigstifar biar hati tenang. Hingga pada akhirnya harus berbohong kepada mereka kalau saya mau di jemput. Saya juga berkata kalau tidak sendiri tapi sedang menunggu rombongan dari Jakarta. Itu saya lakukan biar terhindar dari segerombolan tukang ojek,cara itu pun sukses satu per satu tukang ojek pun menjauh.

“Berbohong demi kebaikan ‘gak salah kan…..!!!”

Lepas dari cengkraman para tukang ojek langsung memutuskan mencari warung kopi. Mulut yang asem karena sepanjang perjalanan Bekasi-Tasikmalaya sama sekali tidak menghisap sebatang rokok. Minum kopi sambil menikmati sebatang rokok imajinasi saya mungkin bisa menenangkan pikiran yang di landa rasa takut dan cemas.

Baca Juga : Tersesat di Gunung Gede Pangranggo

Di sebrang jalan terdapat sebuah warung kopi yang masih buka,saya pun langsung mampir ke warung tersebut untuk minta diseduhkan secangkir kopi. Namun entah apa penyebab-nya tiba-tiba kehadiran saya justru di perlakukan tidak enak,begini kronologinya :

Saat itu saya meminta di seduhkan secangkir kopi,modus utama-nya ialah untuk membuang waktu menunggu pagi sambil mencari informasi tambahan menuju gunung Galunggung. Kurang lebih sudah 45 menit waktu yang di habiskan di warung tersebut. Seperti biasa si akang warung menanyakan saya mau kemana ? Saya bilang kalau mau ke Galunggung,tak lupa ini kesempatan buat mencari informasi tambahan rute trasportasi menuju Galunggung. Oia bukan hanya kopi saja yang di sajikan warung tersebut. Ada bubur ayamnyang di jual di warung itu,uniknya masih banyak pembeli silih berganti membeli bubur ayam itu. Padahal waktu sudah menunjukan kurang lebih jam dua pagi. Di warung itu terdapat dua buah kursi,saya duduk di kursi paling belakang sementara pembeli yang lain sedang asik menyantap bubur ayam di kursi paling depan. Melihat cangkir kopi sudah mau habis,lalu saya memesan Pop Mie. Saya tanya ke akang penjual ? Kang aya popmie…!! saut saya. Si akang pun menjawab Ayaaa Aaa…Si akang masuk ke dalam mungkin langsung meyeduhkan pop mie. Terus saya pindah ke kursi paling depan begitu pun tas dan secangkir kopi yang sedang di minum ikut saya geser ke kursi paling depan. Tiba-tiba si akang keluar sambil berkata :

“Lagi nunggu kan ? duduk-nya jangan disitu,disana saja…” kata si akang. Saya pun dengan senyum dan menjawab sudah kang ‘gak apa-apa saya disini saja. Entah kenapa secara tiba-tiba dengan nada emosi seperti-nya memaksa saya untuk pindah ke kursi sebelum-nya sambil berkata kalau Pop Mie-nya ta aya/eweuh ??? Saya langsung reflek untuk menuruti perintah si akang kembali ke kursi sebelum-nya”

“Padahal sudah terlihat dari meja etalase terlihat banyak pop mie berjejer rapih,lalu kenapa si akang tiba-tiba mengusir tempat duduk saya dan berkata kalau pop mi-nya tidak ada”

Pas saya pindah dan duduk di kursi pertama kali saya duduk. Si akang sendiri yang juga ikut memindahkan secangkir kopi dan tas milik saya ke tempat sebelum-nya. Setelah memindahkan barang-barang saya,si akang kembali masuk selang lima menit kemudian keluar sambil membawa pop mie yang sudah saya pesan. Dengan perasaan kesal yang saya rasakan. Pop mie tidak jadi di makan,saya langusng bayar semua-nya dan cabut dari warung itu.

“Pertanda apa ini ? Saya datang sudah sopan dan senyum. Lalu kenapa sebagai pembeli di perlakukan seperti ini”

MENCARI MUSHOLA ATAU MASJID TAPI TIDAK KETEMU

Rasa kesal itu masih saja terlintas dan berusaha untuk mengihklaskan peristiwa tersebut. Jam sudah menunjukan jam tiga pagi,namun posisi masih belum tenang dan aman tampak seperti gelandangan yang mencari tempat berteduh. Mungkin jika mencari mushola atau masjid bisa menenangkan pikiran sambil menunggu adzan sholat Subuh. Rencana untuk mengejar sunrise di hapus,lebih baik tenangkan situasi hati dan pikiran terlebih dahulu. Entah berapa lama kaki ini melangkah tapi tidak menemukan masjid/mushola terdekat.

Baca Juga : Solo Traveling Ke Jogja

Terlihat dari sebrang jalan ada plang petunjuk arah bertulikan Wisata Galunggung. Kebetulan di samping-nya ada warung kopi dan pangkalan tukang ojek,tanpa pikir panjang saya pun menghampiri warung tersebut. Kali aja dapat informasi tambahan tentang transportasi lanjutan menuju Galunggung.

PESAN KOPI LAGI DAN DAPAT KENALAN TUKANG OJEK YANG BAIK HATI

Sesampai-nya di warung terlihat sepi,hanya terdengar suara televisi yang di biarkan menyala. Lalu penghuni-nya kemana ? saya gedar-gedor tapi tidak ada yang keluar. Lalu saya duduk di warung itu dan berharap tidak di usir seperti di warung sebelum-nya. Pangkalan ojek juga sepi tidak ada satu pun tukang ojek yang mangkal. Sepuluh menit kemudian terdengar suara motor dari belakang datang menghampiri. Datang berdua dan ternyata yang satu-nya ialah pemilik warung tersebut. Saya langsung meminta di buatkan secangkir kopi dengan basa basi menanyakan angkot yang melayani menuju pintu masuk Galunggung. Si pemilik warung menjawab “Angkot disini mah gak ada jam segini,ada-nya nanti jam tujuh pagi A,naik-nya juga ntar dari sini A” Kata si pemilik warung. Haduh,masa harus nunggu tiga jam lagi (dalam hati) oke lah sambil tenangkan pikiran,saya langsung menikmati kopi itu dan membakar rokok sambil berpikir strategi apa selanjutnya yang akan di lakukan nanti.

Menunggu kejaiban,berharap ada rombongan lain dari Jakarta yang mengejar sunrise Galunggung. Kenapa bisa berpikir seperti itu. Karena tempat saya duduk/warung merupakan petunjuk arah menuju Galunggung,disini juga tempat angkot yang menarik penumpang guna menuju pintu masuk Galunggung.

Tiga puluh menit menunggu,tidak ada tanda-tanda bakal ada pengujung lain yang menuju Galunggung. Si pemilik warung menawarkan untuk menggunakan jasa ojek yang kata-nya dari pada harus menunggu hingga jam tujuh pagi. Ok,melihat sudah jam setengah lima pagi,mungkin masih bisa buat saya untuk mengejar sunrise. Saya coba menghampiri tukang ojek tersebut sambil negosiasi berapa tarif yang harus di bayarkan untuk sampai Galunggung.

“Mang Ke Galunggung sabaraha ? Ucap saya,si akang menjawab “80 A”. Kaget,saya pun menawar ? “Yang bener aja Mang masa segitu,25 mau gak Mang”. Si Mang ojek kembali menjawab “Memang segitu Aa”. Hening (terdiam sejenak) apa mesti semahal itu,kalau pulang pergi sama dengan 160K. Ok saya kasih penawaran terakhir “125 mau gak mang,tapi pulang pergi yah… Si mamang tukang ojek akhirnya bersedia dan menyetujui tarif yang tawar sebesar 120K tapi pulang pergi.

“Sebenarnya mahal-nya kebangetan cuma mau bagaimana lagi,harus ihklas mengeluarkan budget segitu demi mengajar sunrise”

Sepanjang perjalanan si mamang tukang ojek bercerita banyak tentang sejarang gunung Galunggung,bahkan kisah misteri tak luput dari cerita. Beliau juga menyarankan untuk berendam dulu di air panas karena pintu masuk kawasan Galunggung di buka jam tujuh pagi. Beliau juga menawarkan untuk mampir nanti ke rumah-nya sekedar sarapan dan istirahat.

“Gak nyesel deh ? bayar harga mahal eh mau di kasih sarapan….!!!”

BARU TAHU KALAU ADA PEMANDIAN AIR PANAS GALUNGGUNG

Perjalan tanpa riset,solo backpeker ke Tasikmalaya kali ini benar-benar banyak kejutan. Pertama tentang angkot/trasnportasi lanjutan menunju pintu masuk Galunggung,tempat pemandian air panas dan jam operasional buka wisata Galunggung. Itu semua tidak di riset terlebih dahulu dari Google,hanya mengandalkan informasi dari masyarakat setempat saja yang bisa jadi modal utama untuk solo backpacker ke Tasikmalaya kali ini.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya

Si mamang tukang ojek mengantarkan sampai ke pemandian air panas Galunggung. Saya juga minta untuk di jemput kembali jam delapan pagi. Di tempat pemandian air panas bingung mau ngapain ? kembali buka HP masih jam lima pagi,sinyal pun tidak ada. Sambil mengamati keadaan sekitar coba mencari warung sekedar untuk meminum kopi dan menghisap rokok.

Dari informasi penjaga warung,benar saja kalau pintu masuk galunggung akan buka jam tujuh pagi. Saya pun bertanya,kalau masuk tanpa izin bisa gak ? Bisa saja kok A kata si penjaga warung tapi hati-hati karena dari pintu masuk sampai anak tangga Galunggung kurang lebih 1 kilo A terus jalan-nya nanjak dan gelap.

“Dilema yang tidak tertahan,jauh-jauh dari Jakarta masa tidak jadi ngejar Sunrise”

JADI TURIS LOKAL ILEGAL

Kalau masuk tanpa izin,sama saja saya turis lokal ilegal. Tapi masa iya harus menunggu lagi sampai gerbang itu di buka. Biar hati ini tenang,coba mencari mushola untuk melaksanakan sholat Subuh terlebih dahulu. Untung saja di lokasi pemandian air panas Galunggung sudah tersedia mushola untuk para pengunjung.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya

Masih kepikiran terus ngejar sunrise tapi resiko-nya jadi turis lokal ilegal atau menunggu beberapa jam lagi hingga pintu gerbang itu di buka,resiko-nya tidak dapat sunrise. Haduh…. Oke salat dulu biar tenang,selesai menunaikan salat subuh,tidur-tiduran di mushola sambil memikirkan strategi selanjutnya.

“Ok saya putuskan untuk mengejar sunrise dengan resiko menjadi turis lokal ilegal…”

Di depan gerbang masuk saya coba untuk mencari orang,maksud tujuan-nya biar ada saksi guna melapor izin kalau saya masuk tanpa tiket/karcis. Sayang-nya tidak ada petugas satu pun yang berjaga. Dari kejauhan terlihat sebuah motor,dan ternyata motor itu ialah motor tukang ojek yang sudah saya boking sebelum-nya. Saya coba untuk menghampiri-nya.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Di Depan Pllang Kawasan Wisata Galunggung

Mang pintu belum di buka ucap saya ? si mamang menjawab Belum A nanti jam tujuh deapanan,kalau mau sini saya antar tidak usah khawatir saya kan orang sini,nanti saya yang tanggung jawab.

“Alhamdulilah… apa yang di pikirkan tidak mau menjadi turis lokal ilegal sudah ada jawaban-nya,dengan begitu kembali bersemangat untuk mengejar sunrise”

MENUJU KAWAH GUNUNG GALUNGGUNG

Perjalanan dari gerbang masuk menuju anak tangga Galunggung kurang lebih 20 menit sejauh 1 kilometer. Kondisi jalan juga jelek dan berlubang,terdapat banyak rambu peringatan hati-hati saat musim hujan. Sepenjang perjalanan akan melewati hutan dan perkebunan entah milik swasta atau milik masyarakat setempat. Harap hati-hati jika membawa kendaraan pribadi karena tekstur jalan yang menanjak dan berliku. Karena lagi mengejar waktu,saya meminta mamang tukang ojek untuk ngebut jangan sampai kesiangan.

DISAMBUT 620 BUAH ANAK TANGGA

Sampai juga di icon Galunggung,kata-nya sih ada 620 buah anak tangga yang siap menyambut pengunjung sebelum menuju ke kawah. Mengamati sekitar tidak ada siapa-siapa saat itu cuma saya dan mamang tukang ojek saja.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Anak Tangga Menuju Puncak

Terlihat banyak warung di sekitar,tapi semua tampak sepi tidak ada satu pun penghuni atau pengunjung lain. Karena takut,saya meminta mamang tukang ojek untuk nunggu di bawah. Saya buka tas dan menyiapkan segala keperluan termasuk senter untuk penerangan.

620 BUAH ANAK TANGGA HANYA BUTUH WAKTU 10 MENIT (SOMBONG)

Berlari,iya berlari yang harus di lakukan demi mengejar sunrise. Mungkin sudah terbiasa mendaki gunung jadi tidak kaget kalau hanya berhadapan dengan anak tangga. Dari 620 anak tangga yang di lewati,saya hanya menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit saja hingga sampai puncak hebat kan…!!! Sombong sedikit boleh lah.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Penampakan Dari Atas Puncak Ke Bawah

KESIANGAN !!! TIDAK DAPAT SUNRISE

Sayang-nya setelah berlari melewati 620 anak tangga selama sepuluh menit. Kecewa yang di alami karena tidak dapat sunrise,padahal cuaca saat itu bagus banget untuk penampakan sebuah sunrise. Ah mungkin kesiangan,tapi ya sudah lah sampai puncak gunung Galunggung saja sudah bikin hati ini senang.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Kesiangan Tidak Dapat Sunrise

Selama di puncak tidak ada siapa-siapa hanya seorang diri. Saya pikir ada orang lain yang berburu sunrise atau pasti ada orang yang camping di sekitaran kawah. Namun pada kenyataan-nya hanya saya seorang diri tanpa ada orang satu pun disini.

“Serasa gunung milik sendiri…!!!”

Di punggungan gunung banyak sekali warung yang berdiri,imaginasi saya ? kaya-nya sambil menikmati kopi enak nih muter-muter keliling punggungan gunung tapi tidak ada satu pun warung yang buka.

TAKUT GARA-GARA MONYET

Sayang sudah sampai sini kalau tidak turun kebawah menyusuri kawah Galunggung. Ketika melangkahkan kaki menyusuri jalan ke bawah,tiba-tiba di hadang oleh segerombolan monyet yang terus memperhatikan gerak-gerik saya. Nah loh…Ngapain nih monyet jahil banget,bikin takut saja.

“Ambil positif-nya saja jika hadir-nya segerombolan monyet pertanda kalau saya jangan turun ke kawah”

Jadi saya tidak sendiri,melainkan di temani segorombolan monyet. Karena takut jadi korban kekerasan monyet Ya sudah,hanya bisa menikmati pemandangan hijau-nya gunung Galunggung dan pemandangan kawah dari kejauhan.

Tanpa terasa kurang lebih satu jam waktu yang di habiskan menikmati pemandangan tersebut. Terdengar suara datang-nya dari arah anak tangga yang menandakan pengunjung mulai berdatangan. Saya pun menyambut mereka seakan-akan sebagai tuan rumah.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Pemandangan Kawah

Mendengar keluhan para pengunjung banyak yang ngeluh karena capek setelah melewati 620 anak tangga. Biasa main ke mall sih dalam hati menjawab. Begitu pun para pemilik warung mulai berdatangan lengkap dengan membawa barang-barang yang akan di jual.

Baca Juga Liburan Ke Geopark Ciletuh Yang Menyedihkan

Melihat jam sudah jam delapan pagi,entah kenapa cuaca saat itu panas sekali,padahal masih jam delapan pagi. Mungkin karena berada di ketinggian yang jarak-nya semakin dekat dengan matahari jadi cuaca terasa panas. Saya kembali turun kebawah melalui jalur anak tangga itu,kembali berlari yang di lakukan. Bahkan banyak yang heran melihat saya dengan cara berlari.

“Jangan heran mbak,saya ini atlet”

Buru-buru mengejar waktu karena punya itinerary selanjutnya.

ITINERARY SELANJUTNYA WISATA KULINER KHAS TASIKMALAYA

Si mamang ojek sudah siaga menunggu di bawah,dia manawarkan untuk mampir sejenak ke rumah-nya sekedar sarapan bersama. Kebetulan perut belum di isi jadi tawaran itu sayang kalau di tolak. Sesampai-nya di rumah mang ojek,langsung di buatkan teh hangat dan pisang goreng Lumayan buat menyambut petualangan pagi ini.

Mang ojek bertanya,selanjut-nya mau kemana ? Saya jawab kalau mau wisata kuliner khas yang bernama Nasi Tugtug Oncom dan meminta di antar kembali ke terminal Indhiang. Puas menikmati secangkir teh hangat dan pisang goreng,tak lupa saya pun pamit ke keluarga mang ojek.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Alun-Alun Dadaha
Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Banyak Yang Pacaran

Dalam perjalanan kembali ke terminal Indhiang,mang ojek bercerita kalau nasi tugtug oncom akan sangat mudah ditemui di alun-alun Dadaha. Menurut-nya ? alun-alun Dadaha adalah pusat nongkrong anak muda Tasikmalaya. Selain tempat nongkrong,disana juga banyak warung-warung yang menjual berbagai macam kuliner. Dari cerita mang ojek tersebut membuat saya makin penasaran dengan alun-alun Dadaha.

KETEMU BAPAK TUA (GELANDANGAN) YANG SAYA ANGGAP SEBAGAI BACKPACKER

Sampai di terminal Indhiang,saya pamit dan mengucapkan banyak terima kasih. Beliau juga mengucapkan hati-hati dan jangan kapok lain kali silahkan kembali kesini.

“Dan kita pun berpisah…..”

Melihat amunisi rokok habis,saya mencari sebuah warung untuk membeli sebungkus rokok sekalian deh sama secangkir kopi. Ketika lagi asik menikmati secangkir kopi,tiba-tiba datang seorang Bapak tua dengan pakaian lusuh,tidak memakai sandal sambil mebawa tas (dari karung) dan di tangan-nya sambil memegang uang receh koin Seperti Pengemis. Meminta kepada teteh warung untuk di buatkan mie rebus. Sontak si teteh warung tampak ketakutan dan menjawab ke Bapak tua itu “Ta aya Pak..mie rebus…”.

Karena tidak tega melihat Bapak tua itu,saya bilang ke teteh warung “Sudah teh,masakin saja biar nanti saya yang bayar….” Teteh warung langsung kembali ke dapur guna memasak mie rebus buat Bapak tua itu. Saya melihat ? Bapak tua itu duduk sambil menghitung koin milik-nya. Yang saya amati,hanya ada koin 100,200,500 dan uang lecek 2000-an. Mie pun tiba,langsung di santap oleh Bapak tua itu. Saya pun inisiatif untuk mengajak dia ngobrol.

“Bapak teh mau kemana ? Bapak makan saja biar nanti saya yang bayar. Bapak teh sama kaya saya,sama-sama backpacker. Makan yang banyak ya pak kalau kurang minta saja lagi nanti saya yang bayar…..”

Solo Backpacker ke Tasikmlaya
Saya dan Bapak Tua

Tidak bisa berlama-lama di warung itu,saya kasih sedikit rezeki buat Bapak itu,tak lupa sekalian minta foto bareng untuk kenang-kenangan pribadi. Setelah saya kasih sedikit rezeki,saya pamit untuk melanjutkan petualangan selanjutnya menuju alun-alun Dadaha untuk berwisata kuliner.

PERJALAN MENUJU ALUN-ALUN DADAHA NONTON KONSER MUSIK KOMUNITAS ANAK VESPA

Dengan menaiki angkot yang mengantarkan sampai di alun-alun Dadaha. Sesampai-nya di alun-alun,terdengar dari kejuhan suara alunan musik yang begitu keras. Karena penasaran ? mencoba untuk mendekati-nya dan ternyata ada konser gratis dari sekumpulan komunitas anak vespa mungkin genre-nya music regge. Pantas saja,ketika memasuki alun-alun banyak sekali anak-anak ABG yang berambut gimbal,celana rombeng,berbagai attribute lain-nya yang kesan-nya menunjukan kalau mereka anak vespa. Begitu pun sepanjang area parkir banyak motor vespa yang mondar-mandir.

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Suasana Konser

Cuaca kota Tasikmalaya yang panas membuat saya kehauasan di tambah mata yang sudah mulai ngantuk. Dari sudut alun-alun,sambil ngadem di temani sebutir kelapa muda untuk melepas dahaga sambil menikmati/menonton music dari kejauhan.

“Sayang-nya genre itu bukan musik favorit saya”

Melihat jam sudah jam satu siang,karang waktu-nyan untuk berburu nasi tugtug oncom atau nasi T’O. Sekilas info tentang nasi TO :

“Nasi Tutug Oncom atau Sangu Tutug Oncom dalam bahasa sunda sering disingkat Nasi T’O  adalah makanan yang di buat dari nasi yang di aduk dengan oncom goreng atau oncom bakar. Penyajian makanan ini umum-nya dalam keadaan hangat. Secara bahasa,kata tutug dalam bahasa sunda arti-nya menumbuk. Proses aduk tumbuk nasi dengan oncom ini menjadi nama jenis makanan yang di kenal dengan nama tutug oncom yang menjadi makanan khas kota Tasikmalaya”

Solo Backpacker Ke Tasikmalaya
Nasi Tugtug Oncom Pict By : cookpad.com

Muter-muter saya mencari nasi T’O,namun sayang-nya banyak yang tutup. Sekali-nya buka itu pun ramai,hati jadi sungkan untuk mampir. Tetap semangat terus menacari warung/rumah makan yang menjual hingga kaki ini lelah. Terlihat di hadapanada sebuah masjid. Saya mampir untuk melaksankan shalat Dzuhur menggingat waktu itu sudah jam dua siang.

NUMPANG TIDUR DI MASJID

Setelah menunaikan ibadah,saya putuskan untuk istirahat sejenak di masjid tersebut. Hingga pada akhir-nya saya ketiduran di Masjid itu. Mungkin karena belum tidur dari kemarin yang membuat ketiduran. Tanpa terasa ketika bangun sudah jam tiga sore.

“Kaget dan perut masih lapar”

Saya kembali memutuskan mencari nasi T’O,namun hasil-nya nihil ? tidak mendapatkan apa yang di mau. Ya sudah lah,mungkin belum jodoh lalu mencari angkot yang mengantarkan saya ke Pool Primajasa untuk kembali pulang ke Jakarta.

Baca Juga : Serunya Body Rafting Curug Naga Bogor

MAKAN MIE AYAM DAN PULANG KE JAKARTA

Sesampai-nya di Pool Primajasa,lagi-lagi penasaran dengan nasi TO. Kembali menyusuri jalan sekedar menghilangkan rasa penasaran tersebut. Pikiran saat itu,perut harus di isi sebelum naik bus pulang ke Jakarta dan jangan di biarkan kosong. Mau-nya sih Nasi T’O namun apa yang di dapat. Eaeeeeaaaaaaa Mie Ayam Capek deeehhh…!!! Jauh-jauh solo backpacker ke Tasikmalaya cuma makan mie ayam,di Jakarta juga banyak.

Setelah perut terisi Mie Ayam selanjut-nya ialah bersih-bersih mengingat belum mandi dan sikat gigi dari kemarin. Terpilihlah sebuah pom bensin yang lokasi-nya berhadapan dengan tempat saya makan. Setelah bersih-bersih dan wangi,kembali jalan kaki ke Pool Primajasa untuk pulang ke Jakarta.

INFORMASI  TRANSPORTASI UMUM MENUJU GUNUNG GALUNGGUNG DARI JAKARTA

Tidak sulit mencari transportasi umum untuk menuju Gunung Galunggung,jika menggunakan transportasi bus dari arah Jakarta. Bisa naik bus Primajasa atau Budiman yang merupakan bus andalan kota Tasikmalaya. Lalu turun di terminal Indhiang,di lanjutkan dengan naik angkot P-20 hingga sampai di pintu masuk Gunung Galunggung. Lalu naik ojek atau jalan kaki hingga sampai di anak tangga Gunung Galunggung

Jika menggunakan jasa transportasi kereta. Turun di Stasiun Tasikmalaya lalu naik angkot 08 Terminal Pancasila-Terminal Indhiang. Lalu nyambung angkot P-20 hingga sampai di pintu masuk Gunung Galunggung. Lalu naik ojek atau jalan kaki hingga sampai di anak tangga Gunung Galungung.

“Amat disarankan lebih baik naik ojek dari pada jalan kaki karena lumayan jauh”

Selain tracking,pihak pengelola juga mengizinkan buat pengunjung yang mau camping di area Kawah Galunggung. Bagaimana,apakah tertarik untuk berkunjung ke sini ? tapi jangan ala solo backpacker seperti saya yah. Datang bersama orang tercinta pasti akan lebih seru.

54 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *