Solo Traveling Pertama Ke Jogja

Bang,abang serius mau Solo Traveling ke Jogja sendiri. Yups why not !!!!! Jogja itu kota yang aman dan ramah buat para solo backpacker/traveling dan merupakan rekomend buat yang suka jalan-jalan sendiri. Dan jangan takut untuk mengenal Jogja dengan cara yang berbeda. Jujur sudah berapa kali sobat jalan-jalan ke jogja,pasti sering dan lebih dari sekali. Dengan  seringnya sobat liburan ke Jogja,apakah tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru. Saya sendiri benar-benar tertantang untuk mencoba jalan-jalan sendiri ke Jogja.

Alasan kenapa Solo Traveling ke Jogja itu Harus

  • Murah
  • Penduduk yang ramah tamah
  • Transportasi mudah di akses
  • Banyak pilihan destinasi wisata

Kalau secara teori,traveling seorang diri akan mengenalkan kita kepada diri kita sesungguhnya. Semakin sering kita berjalan seorang diri,semakin sering kita berinteraksi dengan diri sendiri. Saya yang biasa liburan ke Jogja beramai-ramai,kali ini dengan tekad kuat penuh keyakinan dan percaya diri memutuskan untuk Solo Traveling sendiri ke Jogja.

Perjalanan pun dimulai dari terminal Harjamukti Ceribon memakai bus umum. Sebenarnya saya ini orang Jakarta,berhubung saya silahturahmi dahulu ke rumah nenek di kampung maka saya memutuskan untuk memulai perjalanan dari Terminal Harjamukti Ceribon. Tepat jam 4 pagi saya tiba di terminal Giwangan Jogja,bingung mau ngapain celingak celinguk kesana kesini sambil duduk manis menunggu waktu Subuh. Selesai waktu Subuh saya manfaatkan waktu luang untuk mencari mesin ATM Cimb Niaga terdekat dengan bantuan GPS (jalan kaki loh).

“Hari pertama saya solo traveling ke Jogja di awali dengan jalan kaki sejauh 3 kilo (lumayan capek) demi mencari mesin gesek ATM,sekalian aja saya anggap ini sebuah pemanasan”

Lumayan capek 3 kilo saya berjalan,setelah mendapatkan mesin ATM langsung memutuskan kembali ke Terminal Giwangan. Untuk kembali lagi ke Terminal Giwangan mau jalan kaki atau naik bus Trans Jogja. Rencananya mau cobain Trans Jogja,tapi saya melihat banyak tukang becak disini tidak ada salahnya saya mencoba menggunakan becak untuk kembali ke Terminal Giwangan.

Solo Traveling ke Jogja
Naik Alpahrd Tradisional

Eh…saya dapat kejutan loh,ternyata saya baru tau kalau pakdeh tukang becak di Jogja itu pada jago berbahasa Inggris. Mereka memang terbiasa membawa turis mancanegara untuk keliling Jogja dengan becak. Mantap…..sepanjang perjalanan balik ke terminal Giwangan,pakdeh tukang becak selalu berbicara dengan bahas Inggris yang buat saya lumayan fasih. Benar kata orang kalo Jogja itu istimewa. Sesampainya di terminal Giwangan,saya langsung menghubungi pemilik homestay yang sudah saya boking sebelumnya untuk memberitahukan posisi saya sekarang. Itinerary saya selanjutnya ialah

Sarapan pagi di Malioboro ala Solo Traveling

Sempat bingung juga,yaah maklum ini pertama kali saya mencoba bus Trans Jogja. Kata orang kalau mau irit keliling Jogja tinggal naik Bus Trans Jogja saja. Cuma 4500/orang kamu sudah bisa keliling Jogja. Awalnya bingung mau dijemput pemilik homestay atau naik Trans Jogja. Okelah kalau di jemput kurang afdol rasanya kalau belum mencicipi naik Tans Jogja. Akhirnya saya naik Trans Jogja yang mengantarkan saya sampai di JL Malioboro.

“Jika naik Tran sJogja dari terminal Giwangan menuju Maliboro,kita nanti transit (lupa nama haltenya apa). Pokoknya nanti kita di kasih tahu oleh petugas untuk pindah koridor Bus Trans Jogja,enak kan Cuma membayar 4500 bisa keliling Jogja”

Solo Traveling ke Jogja
Bus Trans Jogja

Di Malioboro saya bener-bener begitu menikmati perjalanan saya,oia perut belum saya isi nih saya sampai lupa,sarapan apa ya. Jadi teringat perkataan teman saya di salah satu forum Backpacker Nusantara. Kalau makan hindari mencari makan di sekitaran Malioboro,loh kenapa ?? Terkadang para pedagang kaki lima suka menembak harga tidak manusiawi. Bahkan ada yang bilang kalau kita ini seperti di anggap turis di negara sendiri. Karena kedatangan saya masih pagi dan banyak warung rumah makan yang belum pada buka. Ya sudahlah makan disini saja,kaki juga sudah kerasa pegal untuk mencari tempat makan lagi,lalu perut dan mata saya tertuju dengan sebuah warung kaki lima (pecel ayam). Saya memesan 1 porsi ayam goreng + nasi dan segelas es teh manis. Saya makan lalu saya bayar.

“Mbak…..iki pira ????? ayam goreng karo es the manis. Telung puluh lima ewu mas !!!!!!!!!. Sambil ngeluarin dompet terus bayar. Ya Allah dosa apa hamba,35 ribu itu biasa kalau saya makan porsi berdua di Jakarta. Gondok kesal dan kapok ,tapi ya sudahlah ambil positifnya aja anggap saja saya ini turis beneran. Apa yang di katakan  teman-teman di forum Backpacker Nusantara itu benar,saya hanya bisa mengihklaskan saja semoga saya tidak teringat kembali.

Baca Juga : Ke Jogja dan Banyuwangi dengan Open trip

For Your Information : Dengar-dengar sekarang ada paguyuban pedagang kaki lima Malioboro membuat aturan wajib memasang daftar harga dan dilarang menaikan harga semena-mena,jika katahuan ada oknum pedagang yang nakal. Akan di beri sanksi berupa larangan berjualan. Saya mengetahui informasi tersebut dari salah satu penjaga warung rokok,pantas saja ketika saya mau memesan makan di warung itu tidak di cantumkan harga. Memang salah saya sih yang kurang peka dengan keadaan.

Menikmati Indahnya Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko Gaya Solo Traveling

Dari Malioboro saya melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan,lagi-lagi saya menggunakan jasa Bus Trans Jogja. Di dalam bus Trans Jogja,saya berkenalan dengan orang Tasikmalaya (cewe) kebetulan kita sedang sama-sama Backpackeran. Niatnya mau ajak share itinerary eh ternyata kita beda tujuan,si Mbak-mbak ini di Jogja hanya transit saja sambil menunggu kereta untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Sementara saya mau ke Candi Prambanan,sudah pede eh langsung drop. Terus saya juga berkenalan dengan sepasang Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berasal dari Malang,mungkin Bapak ini aneh melihat saya dengan menggunakan tas lumayan besar dan sendirian pula. Sepanjang perjalanan kita banyak mengobrol seputar informasi Jogja,menurutnya ini pertama kali mereka liburan berdua di Jogja. Mereka ingin merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke 25 tahun dan mengajak saya ikut merayakannya. Sebenarnya pengen ikut sih,akhirnya penawaran itu saya tolak karena waktu saya terbatas. Akhirnya mereka memberikan no hp kepada saya,jika suatu saat nanti saya jalan-jalan ke Malang dan butuh penginapan. Saya bisa menumpang tidur gratis di rumah mereka.

“Terbukti kan,kalau jalan-jalan sendiri itu ada saja kejutan-kejutan yang tidak terduga sebelumnya,saya makin bersemangat untuk meneruskan Solo Traveling ke Jogja kali ini”

Ada peristiwa unik dan saya baru saja menyadarinya ketika saya membuat tulisan ini. Jika kita bukan asli orang Jawa,kita harus pelajari penjuru arah mata angin dengan bahasa Jawa. Barat-Utara-Selatan-Timur itu adalah pelajaran jaman kita kecil,namun kita kadang sulit membedakan mana Utara,mana Selatan begitupun sebaliknya. Jika di daerah kota-kota yang bersuku jawa pada umumnya Barat-Timur-Selatan-Utara kurang popluer mungkin. Mereka para penduduk lokal biasanya menggunakan dengan istilah jawa yaitu Ngetan-Ngulon-Ngalor-Ngidul.

Ketika saya baru turun dari halte terminal Prambanan,sempat bingung arah mana yang saya ambil untuk masuk ke gerbang pintu masuk Candi Prambanan. Lalu saya coba bertanya kepada peduduk sekitar.

“Maap bu numpang tanya ??? kalau arah pintu masuk Candi Prambanan sebelah mana ya Bu. Lalu Ibu itu menjawab ?? Ngetan Mas…!!!!. Haduuuhhh Ngetan (mendadak kaget) Oh…Ngetan yah Bu,terima kasih yah Bu…..”

Cengar-cengir sendiri arti Ngetan itu opoo… Saya langsung buka Google Translate yang saya konversi dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Solo Traveling Ke Jogja
Ngetan = Memuja

Iki piye…… Loh kok dadi memuja artinya,masa sih Ibu itu tega mengerjai saya. Makin penasaran dan akhirnya saya tau kalau Ngetan itu artinya (Timur) Oooaaallllaaahh baru ngeh saya.

Nah buat sobat jika berlibur ke daerah bersuku Jawa jangan heran jika sobat bertanya arah kepada penduduk lokal,lalu penduduk lokal menjawabnya dengan Ngetan-Ngulon-Ngalor-Ngidul. Karena memang penduduk lokal terbiasa dengan menjawab seperti itu.

Sampai juga di Candi Prambanan Jogjakarta. Sering main ke Jogja tapi baru kali ini saya bisa mampir ke Candi Prambanan. Buat saya Candi Prambanan memang tidak semegah Candi Borobudur,tapi Candi Prambanan lebih indah arsitekturnya di bandingkan Candi Borobudur menurut versi saya. Dalam itinerary yang saya buat sebelumnya,saya tidak memasukan Candi Ratu Boko di dalam list Itinerary saya. Ketika saya melihat di loket pembelian karcis ada tulisan paket terusan Candi Prambanan+Ratu Boko seharga 70K/orang. Tidak ada salahnya untuk saya mencobanya biar saya lebih tau ragam budaya wisata Jogjakarta.

Baca Juga : Ke Semarang Ala Backpacker

Untuk bisa menikmati paket Candi Prambanan + Ratu Boko,kita di wajibkan membeli paket terusan. Nanti sobat tinggal pilih ? Mau Candi Prambanan dahulu atau Candi Ratu Boko dulu. Menurut petugas lebih enak ambil Candi Ratu Boko dahulu setelah itu bisa puas menikmati Candi Prambanan. Oke akhirnya saya ikuti kata petugas untuk mengambil paket Candi Ratu Boko dahulu.
Dalam satu paket itu 70K/Orang sudah termasuk

  • Transportasi PP Candi Prambanan+Candi Ratu Boko
  • Tiket masuk Candi Ratu Boko
  • Bus shuttle AC Pariwisata
  • Asuransi

Saya tahu Candi Ratu Boko itu hanya sebatas melihatnya di berbagai media social tanpa saya riset terlebih dahulu. Dan saya baru tau juga kalau kita ambil paket ini kita akan di antarkan dengan Bus Shutle dari Candi Prambanan menuju Candi Ratu Boko. Begitupun pas mau kembali ke Candi Prambanan nanti kita akan di jemput dengan bus itu juga. Estimasi perjalanan kurang lebih 30 menit jika tidak terjadi kemacetan. Menurut sejarah ini sebenarnya bukan Candi melainkan istana yang berdiri sejak abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra dari kerajaan Medang (Mataram Hindu).

Solo Traveling ke Jogja
Stay On Candi Prambanan

Oh… Jadi ini bukan candi toh ya,melainkan istana (katasejarah). Entah kenapa banyak yang menyebutnya dengan istilah candi bukan dengan istana,apa mungkin karena jaraknya yang berdekatan dengan Candi Prambanan. Atau mungkin juga kalau Jogjakarta ini di juluki juga sebagai kota dengan seribu candi. Ah ya sudahlah kedatangan saya kesini untuk berlibur bukan sebagai peneliti Biologi.

Solo Traveling ke Jogja
Stay On Candi Ratu Boko

Sama halnya dengan candi-candi pada umumnya. Disini tuh panas saat siang hari,waktu terbaik untuk datang kesini ialah menjelang sore hari. Konon katanya disini Candi Ratu Boko kita bisa melihat sunset matahari terbenam,karena lokasi itu sendiri berada di dareah perbukitan. Jika sobat mengambil paket terusan ini,itu kalau sobat mengambil Candi Ratu Boko terlebih dahulu. Usahakan kembali lagi ke loket masuk candi sebelum jam 3 sore untuk kembali lagi ke Candi Prambanan dengan bus shuttle yang sudah disediakan pengelola. Jika terlalu sore di khwatirkan sobat akan kesorean dan terkena macet mengingat jalur itu merupakan jalur wisata yang selalu ramai saat musim liburan tiba.

Sama halnya dengan candi-candi pada umumnya. Disini tuh panas saat siang hari,waktu terbaik untuk datang kesini ialah menjelang sore hari. Konon katanya disini Candi Ratu Boko kita bisa melihat sunset matahari terbenam,karena lokasi itu sendiri berada di dareah perbukitan.
Sunset Candi Ratu Boko (Sumber By) Wisata Jogja

Sudah puas rasanya menghilangkan rasa penasaran saya tentang Candi Ratu Boko,akhinya saya memutuskan untuk kembali ke Candi Prambanan. Setibanya di Candi Prambanan perut terasa kriuk-kriuk, lalu saya berjalan keluar untuk mencari tempat makan. Setibanya di tempat makan sekitaran Candi Prambanan,banyak sekali penjaga rumah makan yang menawarkan hidangannya.

“Monggo mas..sini mas…mangan sini mas..karo gudeg pitung ewu aja”

Begitu yel yel yang mereka teriakan kepada saya,tapi stooooooop dulu. Teringat peristiwa tadi pagi ketika saya sarapan di Maliboro di tembak dengan harga tidak manusiawi. Takut kapok ah ?? entar saya di tembak lagi. Akhinya saya kembali masuk area Candi sambil ngadem di rerumputan pohon rindang. Oia di dalam satu area dengan Candi Prambanan,ada beberapa candi lainnya namun saya lupa nama namaya. Dari pada saya salah dalam memberikan informasi,sobat bisa baca informasinya Disini

Menjelang sore akhinya saya putuskan untuk mengubungi pemilik homestay untuk minta di jemput di pintu keluar Candi Prambanan. Itinenary selanjutnya ialah istirahat di homestay dan paginya akan mengunjungi Umbul Ponggok Klaten. Nanti akan saya ceritakan pada episode berikutnya.

Baca Juga : Pesona Umbul Ponggok Yang Menawan

Buat saya dalam perjalanan Solo Traveling ke Jogja kali ini benar-benar saya nikmati. Banyak sekali saya mengalami hal-hal yang tidak saya duga sebelumnya. Seperti ngobrol dengan pakdeh tukang becak yang jago berbahasa Inggris,makan dengan harga yang tidak manusawi di Maliboro,berkenalan dengan pengunjung dari Malang yang mengajak saya merayakan hari jadi pernikahannya plus memberikan nomor HP nya buat saya jika saya berkunjung ke Malang,bahkan menemui jawaban “Ngetan” dari penduduk lokal yang saya temui.

Jogjakarta memang itimewa,istimewa tempatnya istimewa orangnya. Terkecuali pedagang di Malioboro itu (deeenndddaaammmm) Masih suka kesal jika inget peristiwa itu dan masih suka malu dan ketawa sendiri dengan kalimat #ngetan. Next time sobat harus mencoba Solo Traveling Ke Jogja

 

 

21 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *